Senin, 12 Desember 2011

Penjajahan

“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat” (QS. An-Naml: 34).
Indonesia adalah negara besar dan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Namun kebesarannya belum mencerminkan besarnya kedudukan dan posisi tawar di hadapan bangsa-bangsa di dunia, khususnya Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara maju lainnya. Terbukti banyak perusahaan asing multinasional yang begitu kokoh di Indonesia, walaupun banyak merugikan bangsa Indonesia, seperti Exxon Mobil, Freeport, Newmont dll.
Realitas ini menunjukkan betapa lemah dan tidak berdayanya pemerintah Indonesia terhadap intervensi asing. Negara terkaya di dunia, begitu mudahnya membiarkan bangsa asing menjajah. Mereka merusak moral dan mengeruk kekayaan alam serta mengekor pada sistem ekonomi riba yang mereka terapkan. Akibatnya Indonesia menjadi negara yang paling miskin, rusak moralnya, paling rusak kekayaan alamnya dan pengutang terbesar.

Makna Penjajahan
Dalam bahasa Arab istilah penjajahan disebut dengan “isti’maar”. Ungkapan ini tentu tidak tepat karena artinya memberi kemakmuran. Sebagaimana disebutkan dalam surat Huud 61,
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.”
Sedangkan penjajah selalu menimbulkan kerusakan. Maka istilah yang tepat adalah “istikhraab”. Penjajahan selalu menimbulkan kehinaan, kerusakan dan kehancuran. Itulah ungkapan yang pernah dilontarkan Ratu Bilqis yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Dia berkata:
“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat” (QS. An-Naml: 34).
Sedangkan sosok sang penjajah yang ditampilkan dalam Al-Quran dan sering diulang-ulangnya adalah Fir’aun. Al-Qur’an menyebutkan beberapa karakteristiknya,
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qhashash: 4).

Penjajah dalam Al-Qur’an
Allah SWT menyebutkan kisah Musa AS versus Fir’aun, dan Bani Israil, yang memakan banyak tempat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu sudah selayaknya bagi umat Islam bahkan umat manusia secara keseluruhan untuk mengkaji dan menyelidiki pelajaran dibalik kisah ini. Karena tidak mungkin Allah menyuguhkan kisah yang menjadi salah satu tema besar dalam Al-Qur’an, dibuat tanpa arti. Dari kisah-kisah panjang tersebut, maka disimpulkan bahwa Al-Qur’an, menjadikan Fir’aun sebagai nama dan simbol utama Sang Penjajah.
Dari kisah Musa AS, Fir’aun, dan Bani Israil, banyak pelajaran yang dapat diambil, di antaranya:
  1. Dunia ini menjadi tempat pertarungan antara al-haq (kebenaran) dan al-bathil (kebatilan)
  2. Para nabi adalah pelopor dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan akan selalu berhadapan dengan para penguasa zhalim yang memeranginya.
  3. Fir’aun adalah ikon penguasa zhalim dan sejarah akan berulang dengan tokoh dan waktu yang berbeda.
  4. Fir’aun adalah sang penjajah yang senantiasa membuat kerusakan dan akan mengalami pengulangan sejarah.
  5. Kebenaran dan kebatilan selalu ada pengikutnya. Dan inilah inti dari ujian di dunia.
  6. Penjajah selalu menimbulkan kerusakan dan kehancuran baik moral maupun material.
  7. Orang-orang Yahudi dari Bani Israil menjadi musuh utama para nabi dan pengikutnya sepanjang masa.
  8. Para nabi dan pengikutnya dari orang-orang beriman menjadi pemenang pada akhir dari setiap kisah pertarungan ini.

Penjajahan Modern
Dapat dikatakan bahwa penjajahan modern terjadi setelah perang Salib antara umat Islam dan bangsa Barat yang berlangsung selama sekitar 2 abad. Walaupun bangsa Barat mengalami kekalahan militer dari perang ini, tetapi mereka mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, di antaranya penemuan wilayah-wilayah baru dan kebangkitan industri hasil penetrasi budaya dari umat Islam.
Bangsa Barat mulai melakukan penjelajahan ke wilayah-wilayah baru tersebut untuk mencari bahan baku bagi industri mereka. Dan manuver mereka berakhir pada penjajahan tempat-tempat yang mereka singgahi. Inggris menjajah Malaysia, Filipina, India dan sebagian Timur Tengah. Prancis menjajah wilayah-wilayah di Afrika Utara, Belanda menjajah Indonesia dan demikianlah bangsa Barat menjadikan negeri Islam dan negara berkembang wilayah jajahannya. Penjajahan ini disebut dengan penjajahan langsung.
Penjajahan langsung bangsa barat terhadap negeri-negeri muslim berlangsung sampai sekitar tahun 1945. Di Era Penjajahan langsung, para penjajah benar-benar melakukan apa saja dan mengambil apa saja terhadap wilayah jajahannya. Mereka berupaya menundukkannya dengan menghalalkan segala macam cara. Termasuk pemaksaan terhadap budaya dan agama setempat. Masyarakat pribumi banyak yang menjadi korban jajahan termasuk korban al-ghazwul al-fikri (perang pemikiran), sehingga agama baru berkembang di negeri-negeri muslim dan berkembang. Banyak di antara mereka banyak yang berpindah agama dari Islam atau lainnya ke agama Penjajah yaitu Kristen.
Sekitar tahun 1945 terjadi kemerdekaan secara massal, yaitu kemerdekaan negeri-negeri muslim dari penjajahan secara langsung. Tetapi sejatinya kemerdekaan belum penuh dirasakan oleh negeri-negeri muslim. Karena para penjajah tidak begitu saja meninggalkan daerah jajahannya sebelum mereka menanam bom waktu. Para penjajah berhasil menanam kader-kadernya menjadi pemimpin dengan sistem pemerintahan sekuler yang berkiblat pada barat.
Mulailah bentuk penjajahan baru, penjajahan secara tidak langsung tersebut bernama globalisasi yang menempatkan Amerika Serikat sebagai pemain utama dalam penjajahan. Peran AS didukung negara-negara sekutunya dari Eropa, Australia dan Israel. Amerika Serikat telah membentuk dirinya sebuah kekuasaan global dimana negara-negara lain tunduk dan patuh pada kepentingannya.
John Perkins seorang yang sebelumnya bekerja sebagai EHM (Economic Hit Man, Penghancur ekonomi) menceritakan dalam bukunya pengalaman bagaimana AS menguasai dunia. EHM adalah agen-agen AS yang di-backup CIA dan perusahaan multinasional AS untuk menawarkan pinjaman sangat besar kepada kepala pemerintahan negara-negara berkembang. Berbagai macam strategi untuk meyakinkan kepala pemerintahan dibuat, termasuk strategi yang paling licik, dengan suap, wanita atau tawaran yang lain yang menggiurkan.
Langkah EHM untuk memberikan penawaran pinjaman banyak menuai hasilnya. Negara-negara berkembang berlomba mendapat pinjaman tersebut. Pada saat yang sama mereka harus menerima persyaratan utamanya, yaitu bahwa setiap proyek pembangunan hasil pinjaman tersebut yang melaksanakan proyek adalah perusahaan multinasional AS. Jadi pada hakikatnya sebagian besar uang pinjaman itu tidak pernah berpindah dari AS. Uang itu hanya berpindah transfer dari perbankan di Washington ke bagian rekayasa di New York. Sedangkan negara-negara berkembang harus membayar beban utang sekaligus bunganya.
Indonesia dan Ekuador adalah di antara negara korban kekuasaan global AS. Di Ekuador perusahaan minyak Texaco telah merubah dan meratakan hutan tropis menjadi kubangan comberan yang membuat punah 15 % spesies burung dunia dan ribuan tanaman yang belum diklasifikasikan. Pipa sepanjang 300 mil telah menembus utang dan gunung di sana. Untuk setiap$100 nilai minyak mentah, perusahaan minyak AS menerima $ 75. Sisanya untuk bayar utang dan biaya anggaran pemerintah, sementara rakyat yang miskin hanya menerima sekitar $ 2,5 saja, dan itu untuk biaya kesehatan pendidikan dan bantuan.
Di Indonesia lebih parah lagi, perusahaan Freeport telah mengeksploitasi kekayaan emas dan tambang lainnya dan dibawa ke AS. Sedangkan dampaknya, kerusakan alam dan lingkungan begitu sangat mengerikan. Penduduk Papua yang mengais-ngais rezeki dari tailing atau sisa-sisa galian gunung ditembaki. Perusahaan AS lainnya seperti, Exxon Mobil, Newmont, Caltex dll. berebutan mendapatkan rezeki dari kekayaan alam Indonesia, mereka seperti sekelompok serigala lapar memperebutkan makanan.
Jika langkah EHM menawarkan pinjaman modal tidak berhasil, maka yang terjadi adalah langkah berikutnya. Orang-orang EHM menyebutnya dengan istilah langkah serigala. Para serigala langsung mengintai kepala pemerintahan untuk dijadikan mangsanya. Kepala negara dibunuh, dikudeta atau tewas dalam kecelakaan yang mengerikan. Inilah yang terjadi pada Jaime Roldos, presiden Ekuador, Omar Torrijos, presiden Panama, Zhiaul Haq, presiden Pakistan dan mungkin masih banyak lagi presiden yang menentang AS mengalami nasib serupa.
Dan jika serigala-serigala itu juga gagal mengeksekusi tugasnya, maka yang terjadi adalah invasi langsung kepada negara-negara itu. Inilah yang terjadi pada Irak, Afghanistan dan sebelumnya terjadi pada Somalia, Vietnam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa AS telah menempatkan diri menjadi kekuasaan global, polisi dunia dan penjajah utama dengan melakukan segala caranya baik penjajahan tidak langsung maupun penjajahan langsung.
Penjajahan itu telah mengakibatkan kerusakan yang sangat dahsyat pada semua aspek kehidupan. 24.000 manusia setiap hari meninggal karena sakit dan kelaparan. Kerusakan moral akibat pornografi dan pornoaksi, konflik perang saudara, kerusakan sosial masyarakat dengan merebaknya Narkoba, perjudian dan miras, kerusakan lingkungan dan pencemaran limbah.

Karakteristik Penjajah
Dari uraian di atas, maka tepatlah ketika Al-Qur’an menyebutkan tentang karakteristik penjajah, surat An-Naml 34, Dia Ta’ala berkata :
“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”.

 “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Qhashash: 4).
Para penjajah memiliki karakteristik internal, yaitu melampaui batas (tughyaan), mendustakan Islam (takdzib), menyimpang (‘ishyaan), dan takabbur atau sombong (‘ulu). Dan puncak kesombongan Fira’un sampai pada batas dia mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa agung yang harus diikuti dan ditaati oleh rakyatnya. Disebutkan dalam surat An-Naa-zi’aat ayat 17-24 :
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas. Dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
Sedangkan sifat eksternal dari Fir’aun diungkapkan dalam surat Al-Qhashash 4, yaitu memecah belah atau menjalankan politik Divide Et Impera (syi’aan), menjadikan lemah dan tidak berdaya kelompok-kelompok yang ada di masyarakat (tadh’iif), merusak lingkungan dan merusak moral rakyatnya (ifsaad), menjadikan rakyatnya rendah dan tunduk kepada kekuasaannya (dzillah) dan puncaknya adalah membunuh (dzabh wal qotl) jika melawan dan bertentangan dengan sikap atau pendapatnya.
Seluruh sifat-sifat penjajah yang ada pada Fir’aun tersebut, sekarang sangat kontras dan nyata ada pada penguasa global dan polisi dunia di era modern, yaitu AS, Israel dan sekutunya.
Wallahu’alam bis-Shawab…
(dakwatuna)
Share on :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright Aceh Loen Sayang 2011