Kamis, 22 Desember 2011

Syarah Hadits Ashabul Ukhdud, Bag. 3


Penguasa Zhalim Senantiasa Menghalangi Kebenaran

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian melanjutkan sabdanya dengan mengatakan : “Raja menangkapnya”. Benar, sang raja pun kemudian menjauhkan menteri yang beriman tersebut dari istana raja yang dikhususkan bagi jajaran kerajaan, ia pun dibuang di ruang ke bawah tanah, yang dikhususkan untuk menyiksa orang-orang yang tidak tunduk kepada thaghut untuk mencicipi berbagai bentuk penyiksaan yang sangat pedih.
“Dan terus menyiksanya”. Ia disiksa supaya menunjukkan sumber ucapan keimanan tersebut dan siapa yang memperdengarkannya dan menunjukkannya kepadanya. Sebab, tak ada di kalangan rakyat thaghut tersebut mengucapkan ucapan-ucapan itu.
Juga, orang tadi sebelumnya adalah orang dekat raja. Ia belum pernah mengetahui darinya dan dari orang-orang disekitarnya yang mengucapkan seperti itu. Padahal, kalimat-kalimat tersebut telah musnah dan pelakunya telah binasa sejak dulu kala, sebagaimana yang terbetik dalam benak sang thaghut.
Dari mana orang buta seperti dirinya yang baru saja bisa melihat mampu mengucapkan seperti itu. Pasti di sana ada seseorang yang sangat berbahaya yang bersembunyi karena takut dibunuh.
Ia mengulang-ulang ucapan seperti ini tengah-tengah masyarakat. Sedangkan, balatentara dan mata-mata raja tidak mengetahuinya. Oleh karenanya, orang tadi harus mengaku sebelum bahaya dan keburukannya meluas dan memenuhi singasana serta tata aturan raja. Sang raja terus menyiksanya, “hingga akhirnya ia menyebutkan keberadaan si pemuda”, yang menurutnya sebagai sumber ucapan tersebut.
Maka, sang raja mengutus –dengan segera- balatentara dan mata-matanya untuk mendeteksi kabar berita dan keberadaan pemuda tadi untuk dibawa ke hadapan raja, sebelum ia merusak seluruh rakyat.
“Maka, dipanggilahlah pemuda tadi”, yang telah mengetarkan dan menggoyahkan kesewenang-wenangan dan kesombongan raja serta memporak-porandakan hidup dan tata aturannya.
“Raja bertanya kepadanya”, dengan mengucapkan metode pendekatan dan lemah lembut agar ia mau berterus terang, atau si pemuda tadi merasa malu kepadanya lantas menjawab apa yang ia inginkan.
“Anakku!”, ia menisbatkan pemuda tersebut kepada dirinya. Seolah-olah ia adalah salah satu anaknya. Ini merupakan makar dan tipu muslihat tingkat tinggi. Persis seperti yang dilakukan oleh para thaghut modern kepada orang-orang yang mereka inginkan –yakni orang-orang yang masuk dalam perangkap mereka—untuk menjadi pedukung mereka melawan musuh-musuh mereka.
“Apakah ilmu sihirmu sudah sedemikian hebat sampai kamu bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra, serta bisa melakukan ini itu?”. Yakni, apa yang telah engkau lakukan dengan menyembuhkan orang buta sejak lahir, penyakit lepra, dan yang lain adalah berkat kami. Kamilah yang telah mengajarimu sihir. Itu semua berkat karunia kami. Oleh karena itu, engkau harus mengembalikannya kepada kami, bukan kepada selain kami.
Hati pemuda mukmin tadi telah dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan. Sosok seperti ini tidak akan mungkin goyah keimanannya lantaran ancaman para thaghut yang zhalim. Pemuda tadi berkata kepada raja dengan penuh percaya diri, keteguhan, keyakinan, kemuliaan, dan ketegaran, tak peduli dengan ancaman apapun :
“Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah”. Sekali lagi, pemuda mukmin tadi meluruskan pemahaman sang raja yang salah. Dengan kata lain, seakan ia mengatakan, "Saya tidak menyembuhkan seorang pun. Apa yang saya lakukan ini bukan berasal dari diriku. Itu bukanlah keahlian yang kupelajari dari si tukang sihirmu. Akan tetapi, sesungguhnya yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tak ada yang mampu menolak ketentuan dan ketetapan-Nya. Keutamaan yang kulakukan ini kembali kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, bukan kepadamu dan bukan pula yang selain dirimu”.
Setelah sang raja mendengar ucapan si pemuda yang penuh dengan keimanan, kemuliaan, dan mampu mengungguli kebathilan, maka ia yakin bahwa metode ancaman tak efektif lagi terhadap pemuda tersebut.
Sang Raja beranggapan bahwa ia adalah seorang pemuda yang keras kepala dan tak bisa diajak berdiskusi. Oleh karena itu, harus digunakan metode yang lain kepadanya yang berlandas pada kekerasan dan siksaan.
“Raja pun menangkapnya”, dan menempatkan jauh dari istana yang digunakan duduk oleh sang raja menyambut dan melepas para tamunya. Pemuda tadi ditempatkan di ruang khusus untuk interogasi dan menyiksa.
Hal ini serupa dengan yang dilakukan kepada orang buta yang sebelumnya menjadi orang dekat raja yang telah beriman. Hal ini juga menimpa pada pemuda tadi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui darimana pemuda itu mendapatkan ucapan-ucapan seperti itu, padahal ia masih muda belia.
Ia tumbuh dan dididik di istana raja melalui tangan si tukang sihir. Jadi, sumber yang sebenarnya masih belum diketahui oleh sang raja dan bala tentaranya. Tentunya, si pemuda tahu sedikit tentang itu.
“Dan terus menyiksanya sampai pemuda ini menunjukkan keberadaan pendeta”. Yakni, sumber ucapan keimanan tersebut. Maka, dengan segera sang raja mengirim pasukan dan memata-matainya untuk menangkap pendeta.
“Pendeta pun dibawa”, dengan terbelenggu ke hadapan sang raja.  “Dikatakan kepadanya, ‘Tinggalkan agamamu!”, sang raja tidak menyiksanya –sebagaimana yang telah menimpa pemuda dan orang yang beriman tadi—untuk menunjukkan kepada yang lainnya.
Sebab, sang raja dan bala tentaranya telah tahu bahwa pendeta tersebut yang mengajarkan agama para nabi dan rasul serta kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka.
Ia adalah salah satu orang yang tersisa yang selamat dari pembunuhan massal yang telah dilakukan oleh sang raja kepada orang-orang yang beriman. Terlebih lagi, pendeta tersebut adalah sumber pengajaran ucapan yang didengar sang raja dari pemuda tadi.
Oleh karena itu, permintaan sang raja cukup singkat, “Tinggalkan agamamu dan masuklah ke agama thaghut, berwala’ dan taat kepadanya. Bila tidak, kami akan membunuhmu. Tak boleh hidup seseorang yang berada di antara kami yang mengingkari ketuhanan thaghut”.
Namun, mana mungkin sang pendeta sudi meninggalkan agamanya yang telah ia anut sejak lama. Tak ada dosa yang ia perbuat selain karena ia telah mengucapkan “Rabbku (Tuhanku) adalah Allah”. Iman telah memenuhi hati dan anggota badannya. Bagaimana mungkin ia meninggalkan agamanya dan memenuhi permintaan mereka.
“Pendeta menolak”. Penolakan seorang mukmin yang bangga dengan imannya adalah menolak mengingkari Allah dan masuk ke dalam agama, ketaatan, dan berwala’ kepada sang raja. Maka, balasan yang diberikan oleh thaghut kepadanya adalah :
“Akhirnya diambillah sebuah gergaji”. Yakni gergaji yang biasa digunakan untuk membelah kayu. Namun, kali ini gergaji tersebut digunakan untuk membelah tubuh pendeta mukmin tersebut.
“Lalu diletakkan di tengah-tengah kepalanya”, yakni tepat di tengah-tengah kepala, lalu mulai digergajikan. “Dan tubuhnya digergaji dari atas hingga terbelah dua”, dan jatuh ke tanah. Dalam syari’at thaghut, inilah balasan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengingkari thaghut.
Semua thahgut—sejak zaman dahulu hingga sekarang—memiliki perbedaan di antara mereka, namun mereka memiliki kesamaan di antara mereka terkait dengan balasan yang harus ditimpakan kepada orang-orang yang mengingkari ketuhanan mereka serta hak-hak mereka dalam memperbudak rakyat dan menguasai negeri, serta beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tak dibiarkan hidup bagi siapa saja yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana, yang difirmankan oleh Allah Ta'ala :
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. [Qs. Al-Baqarah: 217]

 “Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib, “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”. [Qs. Al-A’raf: 88]

“Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu”. [Qs. Ibrahim : 13]
            Semua orang kafir mengatakan : “Semua rasul, tanpa terkecuali, dan orang-orang yang beriman dan mengikuti mereka, maka kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”.
Hari ini, cobalah kalian cermati sikap para thaghut yang zhalim itu—semua thaghut—terhadap para pemuda yang mengesakan Allah dan mengingkari thaghut, terutama thaghut-thaghut modern, sedangkan mereka beriman kepada Allah.
Anda akan mendapatkan para pemuda yang terus diusir dan bersembunyi, atau dipenjara dan disiksa ataupun mati syahid. Contohnya yang tak begitu jauh dari pendengaran kita adalah kisah para pemuda mukmin yang beriman kepada Allah yang bersembunyi di balik gunung-gunung dan gua-gua di Afghanistan dari mata-mata para thaghut yang zhalim dan bala tentara mereka.
Ini merupakan metode para thaghut yang terus terulang di setiap zaman dan tempat. Tak ada daya dan upaya selain atas pertolongan Allah.
“Setelah itu, mantan penasihat raja dipanggil”, dari penjara. Tak ada alasan menangkap dan memenjarakannya. Setelah diketahui seluruh unsurnya dan dibunuh pendirinya, yaitu sang pendeta, maka sangat mungkin sekali memeriksa kembali mantan penasihat raja tadi serta segala informasi tentang pemilik dan sumber ucapan dan ajaran keimanan sang pendeta.
Namun, setelah diketahui segala sesuatunya, maka tak perlu lagi mantan menteri tadi mendekam di penjara. Selanjutnya, ia harus menghadapi ujian untuk memilih meninggalkan agamanya atau masuk ke agama dan ketaatan raja. Bila tidak, ia harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya pendeta tadi.
“Dikatakan kepadanya, ‘Tinggalkan agamamu!” yakni, tinggalkanlah peribadatan Allah Ta'ala dan masuklah ke dalam agama dan ketaatan kepada raja.
“Ia juga menolak”, dengan membanggakan keimanannya dan lebih memilih kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, dan dunia kemewahan di istana raja. Padahal, baru beberapa hari ia beriman dan belum lama iman bersemayam dalam hatinya.
“Maka diambil gergaji, ia digergaji dari tengah kepalanya hingga terbelah dua dan jatuh ke tanah”. Sama seperti metode yang diterapkan untuk membunuh sang pendeta sebagai sarana untuk memuaskan kesombongan penyiksa. Juga, agar menjadi pelajaran bagi siapa saja setelahnya dan setiap orang yang jiwanya menyatakan iman kepada Allah Ta'ala.
“Giliran si pemuda dipanggil”, dari penjara. Ia adalah sekutu orang-orang mukmin yang terakhir. Bila si tukang sihir membunuhnya, ia akan terbebas dari orang-orang mukmin di kerajaannya.
“Dikatakan kepadanya, ‘Tinggalkan agamamu!”, yakni ingkarilah Allah Yang Maha Agung dan jangan beribadah kepada-Nya. Masuklah ke dalam agama dan peribadatan raja. Sebuah pilihan dan permintaan sama yang sebelumnya diajukan kepada pendeta dan mantan menteri. Sebab, tak ada keinginan lain bagi thaghut selain itu.
Sang thaghut mengakui adanya diskusi dan mengajak berdiskusi. Namun, ia tidak mau diskusi tersebut keluar dari dua poin dan dua pilihan tersebut; kafir kepada Allah dan masuk dalam keimanan thaghut serta beribadah kepadanya atau dibunuh. Sebab, tak ada pilihan yang ketiga.
Sama persis seperti para thaghut modern. Kita sering kali mendengar mereka menyerukan secara lantang, “Bersama kami dan masuk ke dalam agama tata aturan kami; atau melawan kami dan kalian akan kami perangi dan kami bunuh. Mereka ini adalah para teroris yang menentang thaghut. Tak ada bahasa diskusi dengan mereka, kecuali dengan senapan dan senjata. Sekiranya mereka benar-benar menghendaki diskusi, maka itu yang kami inginkan dengan syarat; keluar dari agama mereka dan masuk ke dalam agama thaghut, taat dan berwala’ kepadanya. Kalau itu yang mereka lakukan, kami akan membiarkan mereka hidup. Namun, bila mereka menolak, maka kami akan membunuh mereka”.
“Dan tentu saja ia menolak”. Ia menolak untuk memenuhi permintaan sang raja untuk beribadah kepadanya. Ia memilih untuk memilih tauhid secara total dan beribadah kepada Allah Ta'ala.
Sang thaghut berprediksi bahwa pemuda tadi akan meninggalkan ibadahnya, terutama setelah melihat –atau mengetahui—metode yang sangat kejam yang ia gunakan untuk membunuh dua orang shaleh; pendeta dan mantan menteri raja.
Namun, prediksinya meleset. Ia mendapati si pemuda tadi lebih tegar dan lebih teguh pendirian serta lebih kuat dalam menghadapi ujian. Ia memiliki keimanan dan keyakinan yang lebih dalam dengan mendakwahkan tauhid.
“Maka raja menyerahkan pemuda tadi kepada beberapa prajuritnya”. Hal ini mengindikasikan bahwa sang raja telah mencurahkan segenap kekuatan dan sarana yang ia miliki untuk membunuh pemuda mukmin di dalam istana. Namun, ia tidak mampu membunuhnya. Allah Ta'ala tidak memberikan kekuasaan dan jalan untuk itu.
Si thaghut menduga bahwa yang menghalanginya untuk dapat membunuhnya tersebut adalah ilmu sihir yang dipelajari sang pemuda. Hal inilah yang mendorongnya untuk meminta bantuan bala tentaranya untuk membunuhnya di luar istana.
Bila si pemuda tersebut tidak keluar dari agamanya dan masuk ke dalam agama raja dengan jalan apa saja yang tak dapat ditandingi oleh ilmu sihir.
“Ia berkata, ‘Bawa dia ke gunung itu, dakilah sampai puncaknya”. Yakni, puncak gunung. Mereka diperintahkan untuk memberikan tawaran kepada pemuda mukmin tadi seperti semula untuk keluar dari agamanya. Boleh jadi setelah si pemuda melihat ketinggian gunung dan kengeriannya, ia akan keluar dari agamanya dan mengubah cara pandang dan sikapnya.
“Perintahkan ia untuk keluar dari agamnya”. Inilah pilihan yang diinginkan dan diharapkan oleh thaghut. Sebab, dengan keluarnya si pemuda tadi dari agamanya dan masuk ke dalam agama thaghut mengandung manfaat bagi thaghut dan tata aturannya melebihi manfaat bila ia harus membunuhnya, sedangkan pemuda tersebut masih dalam agama, akidah, dan ketauhidannya.
Paling tidak, hal itu akan menunjukkan kegagalan dakwahnya di hadapan manusia. Dengan jatuhnya seorang da’i di pangkuan thaghut yang zhalim akan mengakibatkan –dan ini pasti—robohnya dakwah tersebut serta tidak efektifnya dakwah tersebut di tengah-tengah manusia serta memberikan benteng psikologi yang besar antara dakwah–seberapun benarnya—terhadap sasaran dakwah.
Oleh karena itu, dalam perjalanan waktu, seluruh thaghut akan berusaha keras untuk menimbulkan fitnah pada para da’i terhadap agama dan dakwah mereka dengan berbagai sarana dan prasarana ancaman untuk memusnahkan dan melemahkan pengaruh dakwah mereka di hati manusia, terutama para pengikut mereka. Andai saja para dai sekarang ini mengetahui hal ini.
“Jika ia menolak meninggalkan agamanya, lemparkan dia dari atas!”. Bila ia tidak meninggalkan agamanya, lemparkanlah ia dari atas gunung untuk menemui ajalnya, sebagai balasan pembangkangannya terhadap ketuhanan dan keilahanku.
“Maka para prajurit itu membawa si pemuda ke gunung yang dimaksud”. Mereka memberikan tawaran kepadanya, seperti yang dipinta oleh sang raja. Namun, sang pemuda menolak atas permintaan mereka. Maka, mereka pun bermaksud melemparkannya dari atas gunung.
“Sementara si pemuda berdoa, ‘Ya Allah, lindungi aku dari mereka sekehendak-Mu!”. Maka pemuda mukmin tadi –dengan hati yang tulus, tenang, yakin—berdoa kepada Allah Ta'ala. Ia kembali kepada Dzat yang ditangan-Nya segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia memohon kepada Allah agar menghalau mereka darinya dan menghalau keburukan yang mereka arahkan kepadanya dengan jalan dan cara yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ini merupakan bentuk kesempurnaan kepahaman terhadap agama dan adab. Sebab, ia menyerahkan perkara tersebut kepada Allah Ta'ala untuk menghalau mereka dengan cara yang dikehendaki-Nya.
Maka, Allah memerintahkan gunung tersebut yang termasuk bagian dari kekuasaan, tentara, dan makhluk-Nya. “Tiba-tiba gunung terguncang dan pasukan raja berjatuhan”, ke jurang. Allah menyelamatkan pemuda tadi. Ini merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang memuliakan dan memenangkan tauhid dan pemeluknya, serta menghinakan kesyirikan dan pelakunya.
“Si pemuda pulang berjalan kaki ke tempat raja”. Pemuda tadi memiliki tugas yang harus ditunaikan. Yaitu, mengarahkan raja, antek-anteknya, serta rakyatnya untuk beribadah kepada Allah semata serta berlepas diri dari seluruh bentuk kekafiran dan kesyirikan. Ia ingin mengeluarkan mereka dari peribadahan kepada makhluk menuju peribadatan Rabb Pemilik makhluk, dan dari kezhaliman agama manusia menuju keadilan agama Islam.
Ia tidak bersembunyi, padahal ia bisa melakukan hal itu. Ia datang dengan berjalan kaki menghadap raja untuk menantang kezhaliman dan kesombongannya. Ia ia bersuara lantang tentang kebenaran di hadapannya, di istananya, di hadapan antek-anteknya.
Bagi si pemuda, seluruh dunia terasa hina. Ia menganggap murah jiwanya di jalan Allah. Ia menganggap kecil kedudukan thaghut di depan matanya. Dalam pandangan matanya, sang thaghut tak ubahnya seperti nyamuk atau lebih hina lagi.
“Raja bertanya”, dengan perasaan keget atas apa yang ia saksikan. Si pemuda tidak mati dan tidak terbunuh.
“Apa yang dilakukan orang-orang yang menyertaimu”. Aku telah mengutus mereka untuk membunuhmu dengan melemparkanmu dari puncak gunung. Lantas, apa yang telah mereka lakukan? Apa yang telah terjadi?
“Ia menjawab, ‘Allah telah melindungiku dari mereka!”. Dengan jawaban yang penuh dengan nilai-nilai keimanan dan tauhid ini, si pemuda menjawab thaghut. “Allah telah melindungiku dari mereka!”. Allah lah yang telah melindungiku dari mereka, bukan diriku sendiri dengan keahlianku dan bukan pula dengan sihir yang telah kupelajari dari tukang sihirmu, sebagaimana yang kamu kira. Aku berharap hal ini menjadi bukti di hadapanmu untuk mengembalikanmu kepada sesuatu yang haq, kesadaran, dan kebenaran.
Lantas, apa jawaban sang thaghut, setelah menyaksikan bukti-bukti kekuasaan Allah ini?
“Mendengar itu, raja kembali menyerahkan pemuda ini kepada prajurit-prajuritnya yang lain”. Ia tidak putus asa. Untuk kedua kalinya, ia ingin mengulangi uji cobanya. Boleh jadi kali ini ia sukses untuk membunuh sang pemuda dan membrantas dakwahnya.
Ini merupakan sikap melampaui batas yang berlipat-lipat. Permisalannya yang tertera dalam Al-Quran adalah firman Allah Ta'ala :
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita”. [Qs. Al-An’am: 39]
Lantas, seperti apa uji cobanya kali ini? Dalam uji coba yang pertama ia mencoba untuk membunuh sang pemuda dengan daratan, namun belum berhasil. Ternyata, daratan dan gunung dapat ia atasi. Lantas, apa yang musti dilakukan? Tak ada pilihan lain baginya selain ia mencobanya di tengah lautan.
“Ia berkata, ‘Bawa pemuda ini di dalam sebuah perahu kecil. Bawa ia ke tengah-tengah laut!”. Sehingga, ia takkan lagi sanggup—meski berusaha keras—untuk sampai ke pantai dengan sendirinya. Mereka diperintahkan untuk menawarkan kepada pemuda tadi agar meninggalkan agamanya.
“Agar ia mau keluar dari agamanya”, dari kafir kepada Allah Yang Maha Agung dan masuk ke dalam agama thaghut. “Kalau ia tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke laut!” yakni, ke tengah lautan.
“Mereka pun membawanya”, sesuai dengan titah raja. Mereka menawarkan kepada pemuda tadi sesuai dengan permintaan raja. Namun, sang pemuda menolak. Bahkan, ia memegang erat imannya. Maka, mereka pun hendak melemparkannya ke tengah lautan.
“Pemuda itu berdoa lagi, ‘Ya Allah, lindungi aku dari mereka sekehendak-Mu”. Yakni, halaulah mereka dan singkirkanlah perbuatan buruk mereka dariku sekehendak-Mu dan sesuai dengan keinginan-Mu. Maka, Allah mengabulkan permohonannya.
Ombak laut pun mengombang-ambingkan mereka. “Maka, tiba-tiba kapal yang ditumpangi pasukan raja terbalik”. Yang bagian atas berada di bagian bawah, dan sebaliknya. “Mereka semua tenggelam”, di lautan dan binasa. Allah menyelamatkan sang pemuda tadi.
Allah Maha Besar. Sebuah tanda kekuasaan Allah yang lain yang Allah perlihatkan melalui tangan pemuda mukmin tadi. Allah melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.
“Ia pun kembali pulang”, dengan menjunjung tinggi imannya dan mulia dengan Pencipta sekaligus Rabbnya. Bukti kekuasaan ini telah menambah keimanannya dan keyakinan bahwasanya pertolongan Allah kepada agamanya akan segera datang, meski orang-orang kafir membencinya.
“Menghadap raja dengan berjalan kaki”, untuk bertemu dan menghadapinya di istananya, di hadapan para antek-anteknya. Ia tidak takut di jalan Allah kepada celaan orang yang suka mencela.
Ia datang untuk menyelesaikan tugasnya menyampaikan risalah kepada raja zhalim tersebut dan menunjukkan kepadanya apa yang telah diperbuat oleh Allah terhadap bala tentara dan rekan-rekannya. Dan, untuk menyampaikan kepadanya untuk kedua kalinya, “Kamu menginginkan sesuatu, sedangkan kalian menginkan sesuatu yang lain. Namun, apa yang dinginkan oleh Allah Ta'ala –dan segala yang ada di alam semesta yang luas ini—adalah yang Dia kehendaki.
“Lagi-lagi raja bertanya”, dengan kaget dan seakan-akan tak percaya atas yang telah dilihat oleh kedua matanya. Untuk kedua kalinya, ia telah mengutus bala tentaranya untuk membunuh pemuda tadi.
Namun, si pemuda tersebut masih juga hidup dan tidak mati dan tidak pula terbunuh. Aku tak sanggup membunuhnya, meski ia sangat lemah dan masih belia. Sedangkan, disekitar banyak bala tentara. Aku memiliki kekuatan dan persenjataan.
“Apa yang dilakukan para pengiringmu?”. Yakni, orang-orang yang aku kirim untuk membunuhmu di lautan, di manakah mereka sekarang?. “Pemuda itu menjawab, ‘Allah telah melindungi aku dari mereka”.
Allah telah menghalau mereka, keburukan mereka, dan niat burukmu terhadap diriku. Makar dan tipu daya mereka berbalik kepada mereka sendiri. Mereka semua mati dan tenggelam di lautan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri”. [Qs. Fathir: 43]
Dari sini, sang thaghut mengetahui kelemahannya bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk membunuh si pemuda. Meski ia telah berusaha keras tuk membunuhnya, namun ia takkan sanggup membunuhnya.
Sebab pemuda tadi dijaga oleh Tangan Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Tinggi yang tak ada yang menandingi-Nya.
Share on :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright Aceh Loen Sayang 2011